Guru tanpa tanda jasa
“ Pelita Dilangit Gorontalo ” Gorontalo, 20 September 2019. Hari itu ku pandangi wanita itu dengan tulus, wajahnya sudah mulai menua dihiasi dengan kerudung yang elok dipandang, langkah kakinya masih terlihat girang, dan suaranya merdu menyerukan bait-bait syair pusi. Aku masih ingat suara itu! gumamku pada senja sore itu. Pagi itu, suasana nampak tak bersemangat, kegelisahan menghampiri, ditambah lagi keadaanku yang kurang sehat. Ya Rabb, Aku sakit! gumamku dalam hati. Keadaan seolah memaksaku harus pergi sekolah hari itu, karena hari itu adalah awal masuk sekolah setelah libur semester. Teng… teng… teng… bel berbunyi pertanda semua siswa diharapkan untuk masuk didalam kelas. Aku duduk dibangku pertama, berdekatan dengan meja guru, dan jam pelajaran pertama adalah “Bahasa Arab Wajib”. Saat itu tak tahu apa yang kurasa, malas telah menyelimutiku padahal bahasa Arab pelajaran terfavoritku. Tak lama kemudian, “Assalamu’alaikum warohmatullah”, sapaan sosok...