Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2020

Guru tanpa tanda jasa

Gambar
“   Pelita Dilangit Gorontalo ” Gorontalo, 20 September 2019. Hari itu ku pandangi wanita itu dengan tulus, wajahnya sudah mulai menua dihiasi dengan kerudung yang elok dipandang, langkah kakinya masih terlihat girang, dan suaranya merdu menyerukan bait-bait syair pusi. Aku masih ingat suara itu! gumamku pada senja sore itu. Pagi itu, suasana nampak tak bersemangat, kegelisahan menghampiri, ditambah lagi keadaanku yang kurang sehat. Ya Rabb, Aku sakit! gumamku dalam hati. Keadaan seolah memaksaku harus pergi sekolah hari itu, karena hari itu adalah awal masuk sekolah setelah libur semester.   Teng… teng… teng… bel berbunyi pertanda semua siswa diharapkan untuk masuk didalam kelas. Aku duduk dibangku pertama, berdekatan dengan meja guru, dan jam pelajaran pertama adalah “Bahasa Arab Wajib”. Saat itu tak tahu apa yang kurasa, malas telah menyelimutiku padahal bahasa Arab pelajaran terfavoritku. Tak lama kemudian, “Assalamu’alaikum warohmatullah”, sapaan sosok...
Gambar
“ Dibalik Rasa Sebuah Coretan “ Banyak orang saat itu yang takut bermimpi besar, takut memulai dan serentetan ketakutan lainnya. Begitu pula Aku, yang pertama kali bermimpi untuk menjadi seorang guru Pendidikan Bahasa Arab. Aku memiliki hal yang sama seperti mereka yaitu rasa takut, dan tak percaya diri, mungkin ketakutan ku melebihi ketakutan mereka. Apakah ini baik? tentu saja TIDAK! Gumamku dalam hati pada saat Aku duduk dikelas 12 Madrasah Aliyah. Sejak MA, Aku sangat menyukai satu pelajaran ini yaitu bahasa Arab dan ditambah lagi guru pelajaran itu sangat baik, dan sabar dalam mengajar. Rasanya Aku ingin sepertinya, menurutku Dialah motivator guru yang terhebat. Aku menyanyanginya tetapi, Allah lebih menyanyangi dan mencintainya. Beliau telah menghadap sang Ilahi, bibirku serasa kaku dan hanya diam tanpa kata ketika mendengar berita saat itu, hati kecilku hanya berkata selamat jalan, engkau memang tidak lagi bersamaku tapi jasa-jasamu tak akan pernah ku lupa. Teng...

Kisah Nyata Perjalanan Hidup

“ Aku berbeda dengan Kalian ” Banyak orang diluar sana yang hidupnya serba mewah, harta berlimpah, bahkan bisa liburan kemana-mana. Sungguh mereka lebih beruntung daripada Aku. Aku berpikir jika aku menjadi orang kaya raya tapi jika aku tidak bahagia, lebih baik aku memilih untuk menjadi orang miskin seumur hidup bersama dengan orang-orang yang membuat aku bahagia. Banyak realita zaman sekarang, orang yang kaya tetapi mereka diuji dengan anaknya, dan begitupun orang yang miskin mereka diuji dengan ekonominya. Semuanya sudah menjadi takdir dari Ilahi, kita tidak bisa menyalahkan tugas kita hanya mensyukuri nikmat darinya dan yang terpenting teruslah memohon kepada-Nya. Aku berbeda dengan kalian! mengapa aku mengatakan itu? karena Aku adalah anak orang miskin tetapi aku memiliki impian yang besar untuk sukses. Kehidupan yang liki-liku itu selalu terbayang-bayang dalam ingatanku, banyak cemohan yang kudengar dari luar sana apa salah keluargaku? Hingga mereka selalu membicarakan ...

Puisi Cinta Seorang Perantau

“ Bukan Siapa-siapa ” Assalamualaikum… Tahajud Witir Dhuha Waalaikumussalam… Jika saja kau dapat berbicara Mungkin Aku tak selalu meminta Kau Merasakannya, bukan? Aku mencintainya, dapatkah kau bercerita? Ayat demi ayat terlantun lirih Nampak sesosok anak rantau yang butuh kasih Duhai… semesta, lihatlah dia yang sedang tertatih Bahu yang lelah Mata yang basah Kaki yang kehilangan arah Beritahu Aku semesta, dapatkah Aku mencintainya? Sebab Aku takkan terbang dengan satu sayap Tak dapat berdiri hanya dengan satu kaki Bahkan Aku tak bisa mati, jika janji tak bisa ditepati Kerinduan ini membuatku gila… Kehilangan dirimu sebuah luka… Kau adalah sosok yang ketiga… Sayangnya, kau bukan siapa-siapa… Aku masih teringat, saat senja tiada Malam tiba-tiba menyapa dengan segenap rangkaian kata Datang seorang rupawan berbalut iman Wajah berseri yang terbasuh air suci tanda patuh perintah Ilahi Aku tak bisa berkata Aku tak bi...