Guru tanpa tanda jasa


 Pelita Dilangit Gorontalo ”




Gorontalo, 20 September 2019.
Hari itu ku pandangi wanita itu dengan tulus, wajahnya sudah mulai menua dihiasi dengan kerudung yang elok dipandang, langkah kakinya masih terlihat girang, dan suaranya merdu menyerukan bait-bait syair pusi. Aku masih ingat suara itu! gumamku pada senja sore itu.
Pagi itu, suasana nampak tak bersemangat, kegelisahan menghampiri, ditambah lagi keadaanku yang kurang sehat. Ya Rabb, Aku sakit! gumamku dalam hati. Keadaan seolah memaksaku harus pergi sekolah hari itu, karena hari itu adalah awal masuk sekolah setelah libur semester.
 Teng… teng… teng… bel berbunyi pertanda semua siswa diharapkan untuk masuk didalam kelas. Aku duduk dibangku pertama, berdekatan dengan meja guru, dan jam pelajaran pertama adalah “Bahasa Arab Wajib”. Saat itu tak tahu apa yang kurasa, malas telah menyelimutiku padahal bahasa Arab pelajaran terfavoritku. Tak lama kemudian, “Assalamu’alaikum warohmatullah”, sapaan sosok wanita yang terdengar dibalik pintu, “Wa’alaikumussalam warohmatullah”, kami menjawab dengan serentak.
Wanita itu menginggatkan Aku pada sosok ibuku, wajahnya dan tutur katanya yang khas dengan medok bahasa jawanya. Rindu jadinya bukan! Hampir dua tahun merantau, inginnya rindu itu tersampaikan apalah daya, disini aku berjuang untuk Thalabul ‘lmi. Wanita itu menyapa dengan ramahnya, sedikit demi sedikit Ia mulai menjelaskan materi yang diajarkan, suasana pun mulai berubah yang tadinya tegang seolah mencair dan tenang. Saat itu tiba-tiba hal terburuk terjadi padaku, wanita itu menegurku dengan raut wajah yang mulai memerah, saat itu aku tak fokus dan bahkan latihan soal yang diberikannya tak ku kerjakan dengan baik,” kenapa kamu nak? kamu tidak suka dengan pelajaran ibu? Coba lihat teman-temanmu pada berusaha untuk mengerjakannya, kamu malahan hanya asal-asalan!”. Ujarnya tegas. Aku terdiam membisu, merasa sangat menyesal inginku menjelaskan kepadanya tapi aku masih canggung, gumamku dalam hati.
Teng… teng… teng… bel berbunyi pertanda waktu istirahat tiba, semua serentak keluar kelas. Dibawah pohon yang rindang aku duduk ditemani angin sepoi-sepoi yang membuat badanku sedikit sejuk. Seketika aku terkejut, ada sosok wanita yang memanggil namaku dari arah belakang, aku langsung memalingkan badan tak terlihat jelas sosok itu, karena saat itu aku tidak sedang memakai kacamata, sekilas sosok itu mulai mendekatt, dan ternyata sosok itu adalah wanita yang menegurku tadi.

“Sudah makan nak?” tanyanya dengan ramah. Seakan tidak ada hal terjadi.
“Alhamdulillah sudah bu”, jawabku sedikit tegang. “Ibu minta maaf yaa tadi sudah bersikap keras sama kamu!”, ujarnya. “maaf bu, ibu tidak salah yang salah saya yang ibu lakukan tadi sudah benar bu tidak sepantasnya saya bersikap acuh tadi, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya bu”, ujarku dengan merasa sangat malu. Tak terasa pembicaraan kami berlanjut hingga tak sadar jam istirahat telah usai. Hari itu menjadi hari yang sangat berkesan bagiku, dimana sosok yang kupikir sangat killer ternyata memiliki hati yang sangat lembut dan penyabar, siapa dia? Dia sang pelita bagiku.
Hari demi hari kulalui di lingkup almamater tercinta, banyak kisah-kisah yang selalu terabadikan walau hanya sekilas. Ada kabar baik hari itu, dimana perwalian kelas akan segera diganti. Semuanya pasti mengharapkan perwalian yang baik dan tentunya nyaman bagi mereka, begitupun aku sama harapannya. Aku berdo’a agar sosok pelita itu yang akan jadi perwalianku. Dan ternyata, bait-bait do’a itu terkabulkan. Bahagia? Pasti. Kini semakin banyak waktu untuk bertukar pendapat dengannya, meminta saran, dan menuntut ilmu darinya. Dia sosok pelita yang menghiasi kisah-ku dilangit gorontalo, kata-katanya sangat memotivasi bahkan beliau terkenal dengan sosok yang tegas, sederhana dan di disiplin dengan waktu.
Pengumuman kelulusan sudah di depan mata, kupandangi sosok-sosok pejuang yang hampir usai perjuangannya. Aku mulai melangkah keluar, sembari menghirup udara segar mulai kupandangi kelas-kelas itu, badan terasa lemas dan hati terasa sesak, dan lama-kelamaan mata mulai berkaca-kaca, “Aku aku akan segera pamit!” ujarku dalam hati. Tak sanggup rasanya, apalagi akan berpisah dengan sosok wanita itu, yang menggangap aku seperti anaknya sendiri. Hari itu berita buruk telah terdengar di telinga, “Ibu sekarang ada di rumah sakit dan belum bisa mengajar hari ini!” ujar laki-laki yang ada di telephone. Badan seketika kaku, dan bibir diam membisu. Tak berpikir lama, aku langsung pergi.
Dibalik jendela itu aku melihatnya sedang terbaring lemah, tak tahan rasanya air mata itupun mulai membasahi pipi, tak ada yg bisa dilakukan kecuali hanya mengadahkan tangan keatas sembari berdo’a kepada sang Ilahi. Sejak hari itu aku tak lagi mendengar kabar lagi dari wanita itu, kabar terakhir yang kudapat dia telah berada di Surabaya untuk berobat. Ku lalui hari-hari ini dengan damai dan tak lupa selalu ada doa  semoga dia diberi kesehatan dan umur panjang dari sang Ilahi.
Awan biru itu seketika menjadi hitam, cuaca tampak mendung pada hari itu ditambah lagi angin yang bertiup sangat kencang, perasaanku tiba-tiba gelisah tak seperti biasanya,  ku ambil al-Qur’an dan kubaca dengan lirih ayat demi ayat, tiba-tiba suara handphone berbunyi seperti ada pemberitahuan grup whatsapp saat itu, aku langsung membuka dan membacanya, seketika air mata mulai menetes deras hingga kain mukenah menjadi basah, “Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un, ya Allah begitu cepat engkau menjemputnya, mengapa dia harus pamit secepat ini? Aku sangat menyayanginya seperti halnya aku menyayangi ibu-ku sendiri, bisakah aku melihat-nya sekali lagi?” ujarku dalam hati. Dan saat itu menunjukan tanggal 17 September 2018 hari wafat beliau.
“setiap yang bernyawa akan merasakan mati” (Q.s Ali-Imran ayat 185). Hari itu hanya doa senjata ampuhnya, Banyak yang menyayanginya tapi Allah lebih mencintai dan menyayanginya, ada rahasia-rahasia Allah yang terbaik untuk hambanya, tugas kita hanya ikhlas dan tentunya mendoakan, ingat kita semua sama hamba Allah, dan kembali juga pada-Nya. Selamat jalan Pelita penerangku, hanya kata terima kasih yang bisa kuucapkan padamu, jasa-jasa yang telah diberikan akan menjadi amal jariyah untukmu. Pelita itu tak akan pernah padam, Ohh Guruku tidak dikenal karyanya, namun cintanya-Nya menggetarkan penduduk lanigit. Suara dari muridmu, teruntuk Guru-Ku Alm, Dra. Hj. Atik, M.Pd.I.



Biodata Penulis
Bismillah, Assalamualaikum wr.wb. nama penulis Thityn Ayu Nengrum, anak pertama dari pasangan bapak Moh. Panidi dan Ibu Sri Wahyuningsih tempat tanggal lahir Bojonegoro, 20 September 1999. Dan sekarang merantau ikut orangtua di Sulawesi utara  umurnya sekarang sudah 20 tahun dan sekarang penulis kuliah di IAIN Sultan Amai Gorontalo jurusan Pendidikan Bahasa Arab semester Lima. Cerita ini dipersembahkan teruntuk guru sebagai pelita jasa, yang selalu memotivasi dan selalu menjadi pendengar terbaik untuknya.  Terima kasih
Ig         : thitynnengrum
No WA: 082192570984

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Untuk Pahlawan Garda Terdepan Dalam Melawan Covid-19