“ Perihal Sebuah Penghargaan ”



Kampus hijau atau disebut juga kampus peradaban, itulah IAIN Sultan Amai Gorontalo. Alamamater yang dulu di idam-idamkan, kini mulai tampak didepan mata, dan nantinya tempat itu akan mencatat kisah sejarah bagi yang berjihad sungguh-sungguh tanpa keluh.
Pagi itu, suasana mulai berbeda dimana gadis itu tak berada di kampung halaman. Tak ada lagi sosok-sosok yang membangunkan diwaktu subuh, tak ada lagi tangisan dan tawa dari si imut kecil yang lucu. “Dimana dia? Dan dimana sosok-sosok itu?” Ujarnya dalam hati. Seolah tak sadarkan diri, dia mulai beranjak dari tempat tidur. Seketika bingung dan terheran-heran semua barang sudah bersusun-susun, dipandangi barang-barang itu, “Dia benar-benar akan pergi! Berjuang dan hidup mandiri”. Dan pada hari itu mimpinya terwujud yaitu resmi menjadi “ Mahasiswa IAIN Sultan Amai Gorontalo”.
Matahari yang terik, disertai hembusan angin yang sejuk mengawali langkahnya untuk menapaki bumi IAIN. Gelisah, takut, bahkan tak percaya diri mulai nampak pada dirinya, yang pertama tersirat dalam pikirannya adalah menentukan rumah kedua. Dimana akan tinggal? Dimana tempat persinggahan dikala hujan dan terik? Untuk mencurahkan keluh dan kesah! Ujar dalam hati. Sejenak dia mulai merenung, Ya Rabb tunjukan pilihan yang tepat. Dibawah pohon yang rindang, ditemani dedaunan yang gugur gadis rantauan itu merenung sendirian, dia mencoba untuk mencari jawaban dari pertanyaannya itu. Dalam hatinya terbesit satu tempat yang kata orang-orang kita bisa belajar bahkan mengajar disana. Tempat itu adalah “Ma’had Al-Jami’ah”, pondok pesantren kampus yang menjadi wadah untuk belajar dan memperbaiki bacaan al-Qur’an.
Hari pertama ditempat tinggal yang baru. Suasana terasa asing, bahkan canggung. Gadis itu mulai memandangi sosok-sosok asing yang tak kala akan menjadi kawannya. Diberikan tangannya sebagai sapa dan tanda perkenalan, hingga satu persatu dari mereka mulai dikenalnya.”Sungguh kebanggaan tersendiri, bisa memiliki banyak teman dari berbagai suku”, katanya. Hari demi hari kulalui bersama mereka di naungan “Ma’had Al-Jami’ah”, ada sua bahkan duka telah menjadi rentetan kisah-kisah yang berwarna.
“Belajarlah karena manusia tidak dilahirkan dalam keadaan berilmu”. Kami selalu berprinsip untuk selalu semangat dalam belajar, karena kita percaya pasti selalu ada jalan untuk para pejuang. Aktivitas-aktivitas itu kita lalui bersama mulai dari belajar, menghafal, memasak, olahraga, bahkan filosofi “Bangku yang tak bertuan”, juga menjadi saksi perjuangan itu.  Hari demi hari telah berlalu, sebentar lagi mereka akan pamit satu persatu, dan tanpa disadari kita telah diujung cerita.
Tepatnya malam itu, malam yang kelabu dan malam ucapan selamat tinggal. Ada sebuah perihal yang sangat berkesan dimana gadis itu layaknya menjadi putri malam itu. Ketika terdengar namanya dipanggil sebagai “Putri Terbaik Ma’had al-Jami’ah  Periode tahun 2018/2019”, sungguh luar biasa bukan! Dia anak orang miskin, sederhana, terasa tidak pantas mendapatkan ini. Dimulai langkahnya maju ke depan, seketika semua mata tertuju padanya, satu persatu hadiah diterimanya mulai piala bergilir dan ditambah hiasan mahkota di atas kepalanya. “Ya Rabb begitu indahnya rencana-Mu, ini benar-benar sebuah penghargaan yang berkesan di bumi IAIN” ujarnya dalam hati.
Dibalik Perihal sebuah penghargaan itu, tentunya ada banyak tanggung jawab yang harus dilaksanakan, banyak progress yang harus dibuat, karena mau tidak mau dia harus mengabdi di tempat ini. 05 Juni 2018, akan menjadi tanggal yang bersejarah baginya, tanpa melupakan kisah-kisah yang telah terukir sebelumnya. Kini dia mulai mantap untuk mengabdi, hingga telah beralih status menjadi seorang pengajar (Musyrifah). Tak henti-hentinya dia terus memantaskan diri, dia ingin membuktikan bahwa anak sang miskin bisa berkarya dan patut diberikan penghargaan. Setiap perkataan yang menjatuhkan tak lagi didengarnya dengan sungguh, juga tutur kata yang mencela tak lagi dicerna dalam jiwa, dia adalah sosok pemimpi kecil yang beragan untuk merubah nasibnya. Kalian ingin tahu dimana dia sekarang? Tentu, Dia masih tetap menjadi pemeran utama di Ma’had.
Penghargaan yang sangat berkesan lagi, dan pastinya lebih besar pula tanggung jawabnya adalah ketika gadis itu terpilih menjadi “Ketua Pengurus Organisasi Ma’had al-Jami’ah Periode 2019/2020”. serentetan amanah yang ditanggungnya, belum lagi amanah ditempat atau organisasi yang lain. Dia masih kuat dan tegar buktinya masih menduduki peringkatnya menjadi pemeran utama, banyak alasan yang membuatnya masih bertahan hingga kini. Walaupun beribu-ribu pikiran dan tenaga yang ditanggungnya dia masih bisa menyeimbangkan keduanya yaitu antara kuliah sebagai tujuan utamanya dan organisasi sebagai wadah untuk memantaskan dirinya. Kalian ingin tahu siapa gadis itu? Gadis itu adalah AKU.


--- --- ---







Komentar

  1. MasyaAllah K tin,😭 . tuliasan ini berkesan dan sangat memotivasi, serta sangat berinspirasi😇😇, semoga karyanya terus berlanjut..😇
    aamiinn...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru tanpa tanda jasa

Surat Untuk Pahlawan Garda Terdepan Dalam Melawan Covid-19