Kisah Nyata Perjalanan Hidup



“ Aku berbeda dengan Kalian ”

Banyak orang diluar sana yang hidupnya serba mewah, harta berlimpah, bahkan bisa liburan kemana-mana. Sungguh mereka lebih beruntung daripada Aku. Aku berpikir jika aku menjadi orang kaya raya tapi jika aku tidak bahagia, lebih baik aku memilih untuk menjadi orang miskin seumur hidup bersama dengan orang-orang yang membuat aku bahagia. Banyak realita zaman sekarang, orang yang kaya tetapi mereka diuji dengan anaknya, dan begitupun orang yang miskin mereka diuji dengan ekonominya. Semuanya sudah menjadi takdir dari Ilahi, kita tidak bisa menyalahkan tugas kita hanya mensyukuri nikmat darinya dan yang terpenting teruslah memohon kepada-Nya.
Aku berbeda dengan kalian! mengapa aku mengatakan itu? karena Aku adalah anak orang miskin tetapi aku memiliki impian yang besar untuk sukses. Kehidupan yang liki-liku itu selalu terbayang-bayang dalam ingatanku, banyak cemohan yang kudengar dari luar sana apa salah keluargaku? Hingga mereka selalu membicarakan kami. Dalam sujud-ku, ini yang selalu membuatku menangis tersedu-sedu bahkan ada perkataan yang lebih menyakitkan, “anak orang miskin kok sok-sok mau kuliah! Lebih baik kerja cari duit aja, tambah beban orang tua aja!”. Ujar ibuku pada saat menelponku, sesaat mata yang berkaca-kaca mulai meneteskan air mata, aku menahan tangisanku agar aku tampak tegar dan tidak cengeng. Setelah aku mematikan telpon, aku bersandar didinding dan menangis seorang diri aku menangis dengan sekerasnya-kerasnya rasanya sungguh sakit hatiku pada hari itu. ingin ku meneriaki mereka, membalas mereka, tapi apalah dayaku aku hanya sabar dan ikhlas, karena dua hal itu yang nantinya akan membawa hikmah bagiku biarlah sang Ilahi yang membalasnya karena Ia tak pernah tidur!.
Keesokan harinya, aku jatuh sakit! Dan tak masuk sekolah. Sengaja aku tak memberitahu orang tuaku aku tak mau mereka sedih karena aku. Sakit semua badanku, pikiranku tak karuan, dan perkataan itu selalu menghantui. Aku mulai goyah sampai-sampai hati kecilku berkata, “Aku tak berhenti sekolah aja, lebih baik aku kerja!”. Tak tau apa yang terjadi pada diriku pada saat itu, nafsu syaithon sudah merasukiku, Astagfirullah, Astagfirullah berulang-ulang aku beristigfar. Aku yang terbaring ditempat tidur langsung mengambil ponselku dan menelpon orang tuaku, “tuttt..tuttt..tutttt…, Assalamualaikum halo pae, mae, bagaimana kabarnya? Ujarku”, Waalaikumussalam, Alhamdulillah Baik ndok.. sampean bagaimana? Ujar ibuku. “Alhamdulillah baik juga mae, ujar aku” walaupun nyatanya tak sesuai dengan perkataanku. Aku langsung mengatakan semuanya kepada mereka “pae, mae aku tak berhenti sekolah aja, aku mau kerja aja cari duit supaya bisa memenuhi kebutuhan. Ujar aku”, lohh jangan begitu toh ndok sampaean harus mengejar mimpimu, supaya profesimu nanti lebih bagus dari mae, pae dan mae pengen sekali lihat kamu nanti pake baju wisuda dan topi toga! Ndak usah terlalu dipikir perkataan orang-orang yang tidak penting sekarang sampean fokus mengejar cita-cita!  Tunjukan kalau sampean punya ilmu yang nantinya sampean bisa amalkan dimasyarakat. Ujar mae”. Mendengar kata-kata itu sakit hati itu terasa terobati. Aku mulai sadar kalau orang yang menuntut ilmu itu akan ditinggikan derajatnya oleh Allah swt, sebagaimana firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ ﴿١١﴾
“ Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” ( Q.S. al-Mujaddilah ayat 11 ).
Ring…ring…ring bunyi alarmku, aku terbangun disepertiga malam yang hening. Aku mulai membangkitkan diri untuk bangun, air wudhu yang dingin membuat seluruh tubuhku segar kembali, lalu aku mulai membentangkan sajadahku dan kumulai sholat dua rakaat-ku dengan penuh khusyuk. Pada saat aku mengumandangkan takbir الله أكبرair mataku mulai mengalir dipipiku dan disujud terakhir sholatku, kucurahkan segala beban hidup-ku kepada Rabb-ku. Aku benar-benar menangis saat itu, kuangkat kedua tanganku sembari berdo’a dengan penuh harap dan hina dihadapan Rabb-ku sehingga aku terasa benar-benar dekat dengannya, karena kedekatan sejati adalah kedekatan dengan Sang Ilahi yang membuat kita merasa dalam ketenangan.
Hari itu ku mulai bangkit membuka lembaran baru untuk kisahku yang baru. Pagi harinya aku merasa perjuanganku akan dimulai kembali, aku pergi kesekolah dengan menenteng tas hitamku, dan berjalan sendirian sesampainya aku disekolah kawan-kawan-ku menyapaku dengan riang satu persatu-satu bertanya tentang keadaanku, “kamu udah sehat mbak? Ujar siti”, apa kabar mbak udah sehatkan? Ujar marni, cieee… udah sehat ajee luu mbak hahaha… ngeledek otoy. Dan aku langsung berteriak kepada mereka Alhamdulillah, Luar Biasa, AllahhuAkbar “ mereka terkejut dan langsung menertawaiku.
Merantau adalah suatu perjalanan seseorang untuk menuju tempat tertentu. Dan aku telah menemukan tempat itu yaitu Kota Gorontalo. Warna-warni kisahku telah menjadi cerita disini, tiga tahun lamanya aku merantau betapa pedihnya ketika aku menahan rindu pada orang-orang terkasihku, apalah daya rindu itu hanya bisa kusampaikan kepada Rabb-ku disetiap sujud sholatku. Aku masih teringat kisah ketika aku duduk dikelas 11 Madrasah Aliyah, aku merasakan hidupku hampa karena kebutuhanku semakin banyak, “Aku lapar yaa Rabb! Ujar aku yang merintih didalam hati”. Aku takut menelpon, saat itu juga ibu-ku baru selesai melahirkan pasti  uangnya habis untuk biaya persalinan, “Ya Rabb harus bagaimana Aku?”.
Aku duduk didepan pintu, termenung sendirian dan berpikir bagaimana jalan keluar untuk masalahku ini. Sesaat… aku langsung sadar tanpa berpikir panjang aku langsung pergi menemui bu Ani, “Tok…tokk…tokk.. Assalamualaikum, maaf bu menganggu, saya ada perlu sama ibu! Ku mulai menceritakan masalahku, “Begini bu udah dua bulan saya belum bayar kos-kosan, karena orang tua saya belum ada uang bu! Tapi Insya Allah saya akan usahain untuk cari uang bu, ujar aku dengan bibir yang gemeteran. “Ohh iya tidak apa nak, ibu tau kok kondisimu bagaimana, ibu mau nawarin kalau kamu mau kamu ngak usah bayar uang kos yang dua bulan itu tapi kamu harus bantuin bersih-bersih dan beres-beres disini kamu mau? Ujar ibu ani”. Mendengar itu aku langsung spontan mengatakan “iyaa bu, saya mau insya Allah saya akan memegang amanah ini dengan baik bu, terima kasih bu, ujar aku” sambil mencium tangannya.
Besok harinya kumulai tanggung jawab-ku, setiap hari aku harus bangun pagi-pagi sekali agar aku tak terlambat pergi kesekolah. Awalnya pekerjaan itu cukup berat menurutku, karena aku harus menyapu, mengepel, dan bahkan mencuci piring tapi lama kelamaan aku menikmati hidupku ini. Seiring berjalannya waktu aku mulai kwalahan untuk mengatur waktu antara bekerja dan belajar. Alhamdulillah, Saat itu aku tidak mendapat cemohan dari kawan-kawanku malahan mereka tetap menyemangatiku dan mendukungku. Hari-hari kulewati, hati berkata “aku sudah lelah Ya Rabb!”, tapi seakan Rabb-ku membisikanku “ Teruslah bangkit Hamba-Ku, jangan menyerah”. Aku teringat ketika aku merasa fisikku tak sehat, apa boleh buat aku tetap melakukan aktivitasku seperti biasanya, tanpa kuungkap rasa mengeluhku kepada siapapun mungkin hari itu hanya Rabb-ku yang tahu.
Bismillah… aktivitasku selalu kumulai dengan lafadz itu, agar semuanya terasa ringan untuk ku jalani. Hingga aku tak memiliki waktu untuk bermain bersama kawan-kawan apalagi main gadget ahhh… handphone hanya tulalit!. Kalian lebih beruntung daripada aku bukan! Tapi walaupun begitu aku masih memiliki waktu untuk membuka bukuku dan mengerjakan tugasku. Alhamdulillah, aku selalu mendapat nilai yang selalu memuaskan saat ujian, setidaknya itu yang membuat lelahku hilang.
Satu semester telah kulalui, dengan liku-liku yang begitu menantang!, pada hari itu, ada pemberitahuan dari kepala sekolah, bahwa tidak lama lagi kita akan mengadakan penerimaan rapot dan pengumuman kenaikan kelas. Dan kepala sekolah menghimbau agar orang tua siswa bisa hadir pada kegiatan tersebut. Aku  yang mengantuk, tiba-tiba langsung kaget mendengar itu, “hah, orang tua wajib datang? Tanyaku pada kawan sebelahku, “iya-iya wajib datang! Ujar mereka”. Aku diam membisu yang aku takutkan adalah orangtuaku kecewa denganku karena mungkin nilai tidak maksimal. Sepulang sekolah aku langsung menelphone orangtuaku untuk mengabari mereka tentang informasi tadi, “Tuttt…tuttt..tuutt, Assalamualaikum pae bagaimana kabarnya? Ujarku”. Nggeh baik ndok! Ada apa ndok? Ujar bapakku. Aku langsung menjelaskan “ begini pae, tadi ada pemberitahuan disekolah kalau lusa sudah penerimaan rapot dan orang tua wajib datang!, terus pae bisa datang apa ndak? Tanyaku yang sedikit gelisah”. “Oalahh insya Allah pae datang, nanti siang pae tak berangkat ke gorontalo.”  “Eggeh, nggeh pae matur suwon.” Ujarku sambil mematikan telepon.
Hari yang kutakutkan itu tiba, sekolah terasa ramai dipenuhi oleh orang tua siswa saat itu. kulihat hari itu, kalian duduk bersama orang tua kalian dengan penuh riang. Akupun merasakan hal yang sama, walau hatiku gelisah tak karuan. Saat itu hanya doa yang selalu kupanjatkan agar nantinya aku tak mengecewakan bapakku, setidaknya aku bisa masuk rangking 10 besar. Aku yang mengantuk saat itu, tiba-tiba kawanku ratih membangunkanku, “ ehh..ehh bangun udah pembacaan rangking tuh.. emang kamu tidak mau dengar? Aku terkejut dan langsung melolong. Kulihati kalian satu persatu yang masuk 3 besar, wahh beruntung kalian pasti orang tua kalian juga bangga. Dan termenung sesat, aku mendengar kelas 11 D, “wahh kira-kira siapa yaaa yang masuk rangking 3 besar itu? aku bertanya didalam hati. Sekilas ku mendengar namaku terpanggil, sesaat aku tak percaya, tapi ketika namaku dibacakan kembali aku baru percaya, aku tak bisa mengambarkan perasaanku itu, aku langsung maju kedepan dan menerima piagam penghargaan. “Ya Rabb, Hadiah-Mu luar biasa ini buah dari kesabaran dan keikhlasan-ku”. Tak sadar air mataku terjatuh, aku terharu bangga dan senang. Aku langsung mencium tangan bapakku, “pae, mungkin ini dulu hadiah yang bisa aku berikan,”ujarku, “Pae bangga ndokk sama sampean, maaf pae belum bisa berikan apa-apa, pokokknya sekarang sampaean fokus pada tujuanmu, raih cita-citamu setidaknya nantinya sampean lebih baik dari pae, mae”. Ujar bapakku. Aku langsung memeluk bapakku tanpa kupikirkan orang-orang yang melihatku.
Hari itu adalah hari yang paling membanggakan bagiku, karena mengapa? Karena Aku meraih rangking 1 dan mendapat nilai yang memuaskan hal aneh bukan?  kalian rasa tidak mungkin aku mendapat penghargaan itu, tapi aku memiliki kuncinya yaitu ketekunan. Dan nilai plusnya juga adalah saat aku menerima penghargaan itu aku didampingi oleh bapakku. Mungkin bagi kalian ini hanya biasa saja, tapi menurutku ini hal yang luar biasa. Tiga tahun berturut-turut aku selalu mendapat rangking 1, inilah kuncinya jika aku sabar, ikhlas, dan berdoa tentunya maka semuanya akan ada hikmahnya.
Usai sudah masa putih abu-abu-ku, yang menjadi saksi atas perjuanganku. Kini saatnya aku mulai memikirkan, harus bagaimana aku? Memilih untuk kerja atau kuliah? “Uang darimana jika aku mau kuliah?.”ujarku. hari itu ada pendaftaran kuliah disekolah, dan katanya ada beasiswa. Aku mencoba bangkit, dan percaya diri aku harus lulus besiswa itu! dan pada saat pengumuman Alhamdulillah, tak lelah-lelah bibir ini bertahmid kepada ilahi, aku lulus!. Dan akhirnya aku bisa kuliah sampai saat ini. Aku memiliki rumah kedua, yaitu Asrama tercintaku, sekaligus tempat persingahanku . aku mulai mengukir cerita kembali, dan memiliki kisah-kisah yang baru bersama mereka PBA 17. Aku belum menyerah kawan! hidupku memang tak seberuntung kalian, Pesanku  kalian harus bersyukur atas nikmat yang kalian miliki saat ini, jadilah orang yang sebenar- benarnya hidup, bukan layaknya orang yang hidup tapi nyatanya mati! Buka mata dan hati bahwa diluar sana masih ada yang lebih susah dari kalian.  ada satu hal yang membuat aku bangga dan membuat aku semangat untuk menjalani hidup ini, kalian ingin tahu? Tak usahlah kukatakan! Karena nyatanya “Aku berbeda dengan kalian”.  
~ ~ ~ ~

















Biodata
Bismillah, Assalamualaikum wr.wb.  penulis bernama Thityn Ayu Nengrum,anak pertama dari pasangan bapak Moh. Panidi dan Ibu Sri Wahyuningsih. Penulis lahir di Bojonegoro, 20 September 1999.  Penulis merantau ikut orangtua di Sulawesi utara  umurnya sekarang 2o tahun dan sekarang penulis kuliah di IAIN Sultan Amai Gorontalo jurusan Pendidikan Bahasa Arab semester lima. Penulis sekarang tinggal di Ma’had al-Jami’ah.  Penulis memiliki hobi membaca dan menulis. Dan sudah memiliki karya berupa buku antologi berjudul “Perahu Asa dilautan tinta” kisah-kisah inspiratif mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab, dan penulis sekarang tergabung dengan Forum Literasi Pendidikan Bahasa Arab. Terima kasih
Ig         : thitynnengrum
No WA: 082192570984

Komentar

  1. apa yang sebenarnya membuat ka bangga dengan diri ka singga membuat ka semangat dlm menjlni hidup?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak ada hal yang membuat saja bangga terhadap diri saya, hanya saja saya selalu menekankan dalam diri saya harus selalu bermanfaat untuk orang lain. Itu saja.

      Hapus
  2. Masyaa Allah, teruslah berkarya untuk ummat kak.💎

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru tanpa tanda jasa

Surat Untuk Pahlawan Garda Terdepan Dalam Melawan Covid-19