Merangkai Aksara Untuk Ma'had
" Potret Sejarah Dalam Naungan Ma'had "
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia" (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, Ad-Dargutni).
Gorontalo, kota yang dijuluki dengan julukan kota “serambi
madinah”. Kota yang menjadi saksi perjuangan salah satu anak manusia, yang
sejak dahulu tak pernah terpikirkan olehnya. Ohh… Aku namanya, yang mulai
berpijak dan berani untuk melangkah. Hal yang tak mudah keluar dari zona
nyaman, apalagi untuk anak yang baru lulus Madrasah Tsanawiyah masih sangat
polos untuk mengenal orang-orang baru, dan tentunya belum siap untuk berpisah
dengan orang tua. Bagaimana perasaanmu jika berada diposisinya? Jawab dalam
hati saja., kata orang-orang berpisah tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Ini bukan perihal yang menyakitkan! Tapi ini adalah perihal pembelajaran,
dimana Aku harus benar-benar belajar percaya diri, belajar mandiri, dan
tentunya belajar merintih sendiri. Di bumi ini kalam itu bersuara.
Seusai salat asar,
Aku keluar menuju sudut koridor asrama bersama mushaf al-Qur’an yang ku pegang,
ku baca dengan lirih ayat-ayat yang maha kuasa. Suasana sore itu terasa sejuk ditemani
hembusan angin yang membangkitkan dan membuat hati menjadi damai.
“Wahhh… sejuk
banget yaa anginnya, bikin tambah ngantuk aja”. Ujar Izza sore itu. Aku yang
tengah melantunkan ayat-ayat suci tadi, mendadak berhenti.
“Shodaqallahul’adzim,
Astagfirullah Za bukannya anti barusan bangun tidur ? kok ngantuk lagi sih,
wahh… jangan-jangan masih nempel aja itu jin hahahah”, ujarku ngeledek.
“Jangan gitu dong,
jadi horor gini sih, ana juga ngak tau sudah beberapa hari ini badan lemes
banget ditambah ngantuk terus, apalagi nih kalau waktu pagi belajar sama
musyrifah berat banget buka mata”. Ujar izza sambil tertawa.
“Malah ngetawain
diri sendiri, aibnya sendiri bangga hahaha, tapi Za ana tuh pernah baca kalau
orang banyak tidur, malahan dia banyak ngantuk. Kayaknya imannya anti lemah
deh, terkadang disaat hati kita mulai merasa gelisah, kosong, dan sunyi itu
adalah suatu pertanda Allah rindu dengan kita, jadi solusinya kita harus
ngecars iman Za caranya adalah banyak baca Qur’an, zikir, dan tentunya salat
tepat waktu. Ehhh… ngomong-ngomong anti baru bangun kan, pasti belum salat
asar, cepat sana ambil air wudhu terus salat keburu waktu magrib”. Ujarku
dengan tegas. Seketika itu Izza langsung pergi dengan berlari cepat. Aku selalu
ingat firman Allah dalam potongan surah Al-Baqarah ayat 148 yang berbunyi:
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ…
﴿١٤٨﴾
Artinya: “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia
menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan…”
“Adik-adik
siap-siap salat magrib, ayo segera pergi ke masjid”. Seruan yang seakan-akan
mengema disetiap sudut-sudut ruangan, dan seruan itu pula yang seakan-akan
menjadi alarm setiap hari untuk kami apalagi di waktu-waktu salat. Setiap
pertemuan pasti ada perkenalan, dan itu merupakan langkah awal untuk bisa mengenal
sosok-sosok yang baru. Dan Aku bangga, telah menemukan sosok-sosok itu.
Dulu aku
menganggap mereka begitu asing, bahkan terpikirkan mereka tak mau bersahabat
denganku. Ternyata dugaan ku salah, mereka begitu baik walau kita berbeda suku
dan budaya. Saat itu Aku mulai memberanikan diri untuk lebih percaya diri dan
tentunya melawan rasa takut dan malu. Kedua penyakit ini sangat sulit untuk
diberantas, kurangnya percaya diri membuat Aku sulit untuk bergaul dengan orang
baru. Hingga saat itu Aku menemukan satu wadah beserta para pemainnya yang
membuat Aku bisa merubah diriku sendiri, wadah itu adalah Ma’had Al-jami’ah.
Ma’had
Al-jami’ah merupakan pondok pesantren kampus, lebih tepatnya berada di
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai. Disiniah Aku tinggal, mengabdi,
dan memulai kisah yang berkesan. Satu tahun lamanya, Aku menimba ilmu disini
banyak pelajaran bahkan pengalaman yang tak pernah didapat sebelumya. Apalagi
ketika kita belajar al-Qur’an bersama ditemani ustadzah, musyrifah, dan
tentunya kawan-kawan seperjuangan. Ya Ilahi begitu nikmat rasanya, gumamku.
Masih ku ingat pertama kali kita belajar, yang dulunya kita tidak bisa
melafalkan huruf hijaiyah secara fasih, bahkan masih terbata-bata dalam membaca
surah Al-Fatihah, dan lebih berkesannya lagi satu bulan lebih kita hanya
belajar itu ngerasa anak TK yang kembali belajar Iqro’ hadehhh lucu juga.
Begitulah definisi belajar, dari titik yang kita tidak tahu sama sekali
akhirnya kita puas dengan hasil akhir yang diperoleh.
Pukul 03:00,
itulah jadwal bangun kita setiap hari kita harus bangun lebih awal dikarenakan kita
harus ngantri kamar mandi sambil menganguk-nganguk karena kantuk, air wudhu
yang membasahi wajah membuat segar kembali. Selepas itu kita berjalan bersama
menuju masjid, benar-benar ngerasa pejuang subuh hehehe… apa kalian masih ingat
kawan-kawan seperjuangan?
Disudut-sudut
masjid selalu dipenuhi dengan mahasantri-mahasantriwati, kala itu ku pandangi
mereka yang sedang duduk setia dengan mushaf Al-Qur’an yang dipegangnya,
seketika sekujur tubuhku merinding dengan lantunan ayat-ayat suci yang bergema
dengan lirihnya. “Ya Ilahi, ini adalah nikmat yang tak bisa terucap, disini Aku
memiliki keluarga yang dipenuhi dengan ketaqwaan, lingkungan yang religius dan
positif membuat Aku iri dalam hal kebaikan. Alhamdulillah, Aku bersyukur bisa
berhasil menyelesaikan hafalan satu juz. Lahawla walla quwata illabillah.”
Banyak para pemain
disini yang selalu menginspirasi, baik tutur katanya maupun perangainya.
Sosok-sosok yang kuat dan tangguh, tak dibayar dengan materi tetapi mereka tak
mengeluh, karena kenapa? Karena mereka melakukannya dengan Lillah. Ku sebut
saja sosok-sosok itu adalah para musyrifahku. Aku termenung sejenak, terbesit
dalam pikiran ingin memiliki peran seperti mereka, walaupun banyak bisikan
tajam yang membuat ragu tapi apa salahnya Aku mencoba! Mereka saja bisa, Aku
harus lebih dari kata bisa. Ujarku dalam hati.
Waktu semakin
cepat berlalu, hingga hari perpisahan itu tiba. Nampak jelas didepanku,
sosok-sosok yang wajahnya dipenuhi dengan air mata. Seketika Aku pun terbawa
suasana tangis dan haru, badan terasa lemas, bahkan bibir ini terasa kaku untuk
berucap. Tak lama langitpun ikut menangis seolah-olah merasakan apa yang kita
rasakan. Jam demi jam berlalu akhirnya kita berada dipenghujung acara, acara
yang ditutup dengan pemilihan putra dan putri terbaik ma’had tahun 2018. Saat
itu Aku bersikap biasa saja, karena pikirku pasti bukan Aku!. Aku yang melamun
seketika terkejut kaku mendengar namaku disebut sebagai putri terbaik ma’had
tahun itu. Tangis bangga nampak dalam wajahku, karena Aku mendapat penghargaan
yang tak terduga sebelumnya.
Mahkota yang
terpasang diatas kepalaku, membuat Aku terlihat seperti putri malam itu. Aku
tak akan pernah lupa dengan hari Selasa 05 Juni 2018, dimana Aku berhasil
menciptakan sejarah baru dalam diriku. Dalam kalam berperantara tulisan ini,
Aku berucap terima kasih sedalam-dalamnya kepada para pemain yang berada di
ma’had, terutama kepada Mudir Ma’had Al-jam’ah yang kusebut nama beliau Ustadz
Dulsukmi Kasim, Lc. M.H.I, yang selalu menginspirasi, berbagi banyak
ilmu baik ilmu dunia maupun akhirat, dan tentunya selalu sabar dan selalu
menyalurkan ide –ide berlian untuk kemaslahatan bersama. Dan juga para Pembina
yang kusebut satu persatu satu mereka, Ustadz Marzaki beliau adalah Pembina
sakan Ali sosok yang terkenal dengan gayanya yang lemah lembut, selalu menjadi
penengah, dan tentunya selalu berbagi inspirasi dari pengalaman kisah-kisahnya,
Ustadz Abdul Kadir Ismail beliau adalah sekretaris di UPT Ma’had terkenal
dengan sosoknya yang tegas, disiplin, dan selalu memberikan kita pelajaran
bahwa selagi kita memiliki kemampuan, maka pantaskanlah, Ustadzah Suharia
Sarif beliau adalah Pembina sakan Aisyah terkenal dengan sosoknya yang
ceria, ramah, dan selalu menjadi penguat, dan Ustadzah Hikmawati Sultani
beliau adalah Pembina sakan Khadijah terkenal dengan gayanya yang tegas, baik,
dan selalu memberikan nasihat-nasihat yang membangun. Sekali lagi hanya ucapan
terima kasih yang bisa diberi, percayalah kalian akan selalu tersebut dalam
sujud yang panjang.
Teruntuk musyrif
dan musyrifahku, kalian adalah sosok-sosok yang hebat, kuat, dan bertanggung
jawab, walau kalian memiliki kesibukan yang padat tapi kalian masih ingat
adik-adikmu, terima kasih telah menjadi penguat hingga kita bisa sampai dititik
ini, dan untuk kawan-kawan seperjuangan yakinlah “bukan perpisahan yang
kutangisi tapi pertemuan” tapi Aku bangga bisa bertemu kalian. Selamat
berkarya ditempat yang baru, jadilah “gelas-gelas kaca yang tahan banting”.
~~~~
Hari itu lembaran
baru dimulai, Aku dimana? Jika kau bertanya begitu tenang Aku masih tegak
berdiri di pondok ini, dengan memainkan peranku yang baru. Aku yang dulunya
selalu bertanya, kini harus siap menjadi tempat untuk segala pertanyaan, yaah
seperti itulah peran sebagai musyrifah. Dari kejauhan kupandangi bangunan tua
yang masih kokoh, dengan cat dindingnya yang hampir pudar, walaupun begitu
banyak sejarah yang terjadi disana. Hingga kini terasa asing, dengan hadirnya
sosok-sosok yang akan membuat warna baru dalam sejarah itu, kusebut mereka
dengan “Adik Tak Sedarah”.
Aku benar-benar memainkan
peranku dengan sebaik mungkin, agar semesta tahu betapa besar ketangguhan ini.
Impian yang sebatas angan-angan itu, kini mulai nampak nyata. Gorontalo, 21 September
Aku menciptakan sejarah lagi untuk diriku tapi, kali ini memang berat dimana
Aku terpilih menjadi sosok Pemimpin
Dibawah terik
matahari yang hampir membuat kulit ini terbakar, aku berjalan seorang diri
sambil mengendong tas dongkerku, tak tahu apa yang kurasa saat itu. Badan
terasa lelah dan mulai goyah, seakan begitu berat beban hidup ini. Brakkk… suara
pintu yang tak sengaja ku tutup kuat, Aku terdiam dan mulai merintih pilu
dipojok kamar dengan menyandarkan badan di dinding putih itu, wajah yang
semakin basah merupakan bukti aku berada di titik kejenuhan. Hari itu hanya
satu yang terpikirkan “Aku ingin berhenti!”, berhenti untuk tinggal disini,
berhenti untuk melepas tanggung jawab, dan tentunya berhenti untuk mengabdi. Seketika
Aku teringat potongan hadis Nabi Saw yang berbunyi:
وعن بن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: كلكم راع
وكلكم مسئول عن رعيته…
Terjemahannya: Dari Abdullah bin Umar bahwa dia mendengar
Rasulullah telah bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin
akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya…” (Muttafaqun
‘Alaih).
Hati naluri ini
berkata jangan! Mereka masih membutuhkanmu disini bertahanlah walau sebentar,
saat itu bibir ini selalu lirih dengan kalimat “Astagfirullah… Astagfirullah…
Astagfirullah…” maafkan Aku Ilahi yang selalu berputus asa. Kubayangkan saat
awal bertemu dengan mereka, yaa “Adik tak sedarah”, yang dulunya mereka asing
bagiku hingga kini terasa tak ada jarak diantara kami. Gelak canda maupun tawa
selalu nampak di wajah-wajah itu, walau satu persatu dari mereka harus pamit
dengan alasan masing-masing. Aku tetap berterima kasih telah memberikan warna
dalam sejarah ini.


Komentar
Posting Komentar